Feature Cause

Donate & Help

Save a Life

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Donate Now
Feature Cause

Feed the Poor

To Help Them Survive

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Donate Now
Feature Cause

Save Humanity

To Help Them Survive

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Donate Now
Feature Cause

Donate & Help

To Give Them a Life

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Donate Now

Our Latest Blog

Saturday, 3 December 2016

Kampus Satu Warna

Saya tak habis pikir mengapa ada kelompok. Ada yang bila, kita mesti memilih kelompok tertentu, karena ada siang ada malam. Kita harus punya satu warna supaya kita bisa kenal mana diri kita dari sekian warna yang ada. 

Warna dalam perpolitikan sungguh sangat mengenyampingkan persatuan. Meski pun ada bersatu, tetapi itu mempersatukan golongannya semata, menyatukan satu warna dan membunuh warna lain. Ironisnya, meski tak memiliki kapasitas, tapi karena warna yang sama, maka mereka yang telah punya jabatan politik atau kekuasaan, bisa dengan seenaknya mengambil pemain dari warnanya meski pemain itu masih terlalu muda, alias tak memiliki kredibilitas di bidangnya.

Warna di lingkungan kita akan terlihat dengan jelas ketika akan melangsungkan  pemilihan menjadi pemimpin atau ketua. Di bidang apa saja. Termasuk yang akan saya bahas secara ringkas di sini, adalah pemilihan pimpinan atau ketua-ketua di dalam kampus.

Saya mengambil contoh di kampus x. Di sana, perpolitikan terlihat begitu jelas bermain ketika akan dilangsungkan pemilihan ketua/pimpinan. Di situ akan jelas mana warna x mana warna y. Pertarungan warna pun diambil sebagai isu sentral untuk merekrut para pemilih. 

Sehingga siapa pun yang naik menjadi pimpinan (misal rektor) akan menjadi aktor politik yang punya fungsi ganda. Selain sebagai menjalankan roda kampus tapi juga menjalankan perpolitikan di suatu daerah, termasuk di wilayah yang dipimpinnya.

Di dalam kampus, pertarungan warna ikut bermain sampai ke tingkatan paling bawah. Katakanlah di kampus x itu. Pemilihan ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan atau Senat Mahasiswa (Sema) atau Dewan Mahasiswa (Dema), kerapkali isu yang dipakai adalah isu pertarungan warna. Antara yang hijau dan yang biru. 

Lalu ketika kepemimpinan berlangsung, maka secara otomatis, mereka yang satu warna akan direkrut menjadi anggota dalam struktural kepemimpinannya. Tak lagi melihat kemampuan person dari yang akan memimpin. Jabatan bagai ajang bagi-bagi kue, ketika calon yang diusung menang di arena pemilihan.

Kasihan sekali mahasiswa yang seharusnya belajar berpolitik secara transparan dan jujur dalam memilih pemimpin, harus tercemari dengan politik yang dilakukan sang maha guru di kelas akademiknya. Kasihan sekali mahasisw yang baru ingin belajar jadi pemimpin yang adil harus terlebih dahulu menggunakan cara-cara licik demi menang di kursi pemilihan ketua himpunan atau Sema dan Dema.

Situasi menjadi panas ketika akan pemilihan. Sang calon atau tim suksesnya kemudian melakukan lobi-lobi politik kepada pemilih. Mereka menyajikan kata-kata indah untuk mengambil hati sang pemilih untuk bisa memilihnya atau memilih calonnya. Ucapan yang merayu pun dikeluarkan demi melumpuhkan sang pemilih, bahkan tragisnya, sang pemilih kerap "diculik" ketika sang pemilih tak ingin menuruti apa yang diinginkan dari satu kelompok bersebelahannya.

Belum lagi intimidasi, paksaan dan ancaman, kalau hal-hal seperti janji untuk pembagian jabatan sebelum pemilihan itu sudah biasa. Akan tetapi, ancaman jelas menimbulkan gangguan psikis bagi sang pemilih nantinya. Sungguh perpolitikan di kampus jauh dari maksud pendidikan itu, yang harusnya cerah dan mencerahkan.

Kampus x itu bukan meninggikan motto: percerdasan, pencerahan dan prestasi, melainkan penindasan, penggelapan dan tempatnya berpraktik korupsi.

Sekian saja.

M Galang Pratama
Source : http://www.hercampus.com/

Politik itu Bugil

Media saat ini telah bugil. Memperlihatkan kepada publik ketelanjangan politik. Setiap orang sekarang bisa tahu tentang seni pemerintahan beserta senjata yang dipakai para aktornya. Dan setiap orang pun sampai saat ini baik dari golongan pengusaha sampai ke tukang becak bisa berkata: "Politik itu busuk, kotor, najis."

Berbeda dengan beberapa tahun silam, ketika awal tahun 2000-an, saya melihat dan membaca politik tidak begitu diumbar ke publik. Mereka yang di atas aman-aman saja memainkan lakonnya. Entah mereka menyalahgunakan wewenangnya atau tidak, masyarakat tak ambil pikir. Namun, yang terjadi sekarang sebaliknya. Masyarakat kecil seperti penjual ikan dan sayur pun ikut-ikutan berdiskusi terkait pemimpin negara. Bukan cuma diskusi tentang sepakbola, bahkan politik pun dikiranya sudah merasuki pertandingan sepak bola, olahraga yang banyak diminati kalangan banyak itu. Itu tak dipungkiri, bahwa memang benar demikian.

Seharusnya pendidikan politik yang bersih dan benar harus sudah masuk di kurikulum tingkat sekolah dasar. Siswa-siswi diajarkan bagaimana menjadi pejabat publik yang jujur, dermawan dan amanah. Meski adil tak dapat dikesampingkan, namun sifat itu sungguh masih sulit terealisasi bagi pejabat kita di negeri ini, di tahun-tahun mendatang.

Sekian saja.
Indonesians Country
Source : https://pbs.twimg.com

Friday, 2 December 2016

Kecerdasan adalah Kebiasaan

Yang menjadikan kita berevolusi secara cepat adalah apa yang seharusnya kita lakukan saat ini, itu kita lakukan sekarang juga. 

Memang pernyataan "penyesalan selalu datang belakangan" terasa klise sekali di telinga kita. Apakah ada kalimat lain selain itu? Itulah kalimat satu satunya yang kita tahu, jika kita hanya berkutat pada bacaan itu itu saja. Tak ada yang berbeda dari sebelumnya.

Saya merasakan bagaimana perubahan orang hebat dalam waktu satu tahun. 2015 sampai 2016. Kuamati. Dalam. Di situ saya melihat, bahwa karena orang ini memliki sebuah kebiasaan yang menjadikannya produktif.

Apa saja, jika kau mampu melakukan hal yang kau sukai itu secara kontinyu, maka hal itu yang akan membawamu menuju kegemilangan masa yang akan datang.
M Galang Pratama
Source : http://www.wallquotes.com/

Dasar Kau

Entah. Saya mendengar, sebuah kisah pilu. Yang membuat perasaan terasa teriris badik. Tajam, tajam sekali. Kulihat darahnya seperti mengucur begitu deras. Deras sekali. Jikalau saja saat itu, aku tahu kau tak pernah suka, maka tak akan kuberikan. Itulah yang membuatku sekarang menjadi selektif dalam memilih. Termasuk dalam memberi. Memberi senyuman dan wajah yang pernah kau injak dan mengumpatnya dengan kata kata keji lagi biadab. Dasar kau!

M Galang Pratama
Source : http://cdn.warer.com/
© 2012 MgP. Powered by Blogger.